This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

[Diskusi] Citra dan Teman-Temannya

Dulu, pas SMA di jurusan bahasa, aku sempat belajar tentang citraan dlm karya sastra. Citraan itu intinya membedah panca indra mana yg bisa dihubungkan dgn sebuah karya sastra. Sekalipun nilaiku bagus di bagian ni (makasih Pak Soekarno :p) sebenarnya aku nggak banyak tahu. Aku selalu menebak di kelas dgn feeling dan untung-untungan. Lalu aku akan heran kalau jawabannya benar. Selalu seperti itu. Ada banyak kebingungan dlm citraan karya sastra ini. Bagiku, jika kita menemukan kata "melihat" dlm sebuah puisi, maka kata tersebut tak berarti identik dgn mata. Tapi di citraan dlm mata pelajaran itu, seolah melihat hanyalah hal yg bisa dikerjakan oleh mata. Pas udah kuliah di filsafat, aku baru tahu kalau daridulu ternyata aku ada bakat-bakat filsafat aliran metafisika. >,<
Citraan itu, misal nih ya, dlm puisi karya Amir Hamzah berjudul Padamu Jua. Kaulah kandil kemerlap |pelita jendela di malam gelap |melambai pulang perlahan | sabar, setia selalu. Kata yg digaris bawah adlh citraan mata karena membutuhkan indra mata untk dpt melihat pelita. Nah... Sebenarnya aku tak tahu apakah ni benar / tidak. Tahu-tahu nilai ku secara misterius bisa bagus. Teman-teman suka tanya dan aku terpaksa kasih tahu hal yg kurang aku kuasai karena kalau aku nolak, mereka akan bilang aku sombong. Di mata pelajaran sastra ini, aku merasa tergopoh-gopoh untk tahu makna kata citra.
Rasanya, citra memang sudah terlalu identik dgn merk hand body lotion. Sampai pd suatu hari munculah icon baru remaja gaul Indonesia : Bunga Citra Lestari. Citra tak lagi menghadapi ancaman privatisasi kebahasaan. Setidaknya saat ada orang berkata "citra", pikiranku tak hanya tertuju pd merk hand body, tapi jg tertuju ke suara "sunny... sunny... Apa kabarmu baik-baik saja...". Jangan harap (dan untungnya sampai sejauh ni tak ada yg berharap juga) aku akan ingat kata "citra" itu sebagai bagian dari mata pelaran sastra. Karena aku memang tak suka mengingat bab dlm sebuah mata pelajaran yg kurang memberikan fungsi praktis dlm kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dgn pancasila. Kira-kira begitu.
8 tahun lamanya, media menyuguhkan sebuah kata yg dulunya tak pernah aku akrabi, yaitu kata Pencitraan. Sekarang ni pencitraan memiliki arti yg sangat buruk. Tidak seindah yg ada dlm karya sastra. Untuk hal ini, mari kita berterimakasih pd SBY and the gank yang telah membuat kata pencitraan jadi sedemikian rupa.
Di yahoo answer, aku menemukan definisi pencitraan. Jadi definisi pencitraan adalah "membuat suatu hal agar citra kita menjadi baik dimata publik, mungkin para pejabat di negara kita sudah sangan fasih melakukan hal tersebut contoh : update status dan ngetweet di twitter agar dibaca orang banyak (publik)." Tentu saja ni definisi yg keliru. Di kelas logika semester awal dulu, aku belajar bahwa jika kita mendefinisikan sesuatu, kata yg akan kita definisikan tak boleh ada dlm definisi yg kita jabarkan. Di kalimat itu ada kata citra, padahal kan yg sedang didefinisikan adlh kata pencitraan. Nah, herannya, jawaban itu di vote oleh 9 orang. Oke, selamat kepada 10 orang (9 vote + 1 orang penjawab) yg secara terang-terangan melakukan kesalahan logika.
Kalau kita cari di kamus besar bahasa Indonesia online, kata pencitraan itu nggak ada. Nggak ada karena memang kata itu udah tercemar sama imbuhan. Tapi arti dari citra menurut KBBI adlh :
cit.ra [kl n] (1) rupa; gambar; gambaran; (2) Man gambaran yg dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, / produk; (3) Sas kesan mental / bayangan visual yg ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, / kalimat, dan merupakan unsur dasar yg khas dl karya prosa dan puisi; (4) Hut data / informasi dr potret udara untk bahan evaluasi; -- perbankan gambaran mengenai dunia perbankan: kejadian spt itu jelas tak menguntungkan dl upaya meningkatkan -- perbankan kita di mata internasional
Yang paling dekat dgn pembahasan kita adlh definisi no 2. Man gambaran yg dimiliki orang banyak mengenai pribadi, perusahaan, organisasi, / produk. Pencitraan sendiri adlh sebuah cara yg digunakan untk menggambarkan seseorang. Meskipun di dunia perpolitikan kita, pencitraan itu seperti selendang sutra tipis yg menutupi bangkai beruang besar yg sudah mati berhari-hari. Pencitraan jg memuat tentang kebaikan-kebaikan, yg sebenarnya tak ada. Segalanya serba palsu, dan seolah ada isinya.
Padahal sejatinya, pencitraan adlh hal biasa di dunia politik dan dunia marketing. Tidak ada yg buruk dari situ. Namun, saat pencitraan politisi sudah sampai pd tahap menjijikkan, pencitraan mulai mendapat stigma negatif. Sama-sama diberitakan sedang melakukan kebaikan di media, respon masyarakat pd aksi Abu Rizal Bakrie akan berbeda dgn respon masyarakat pd apa yg dilakukan oleh Jokowi. Keduanya sama-sama bisa disebut pencitraan. Tapi karena kata pencitraan sudah demikian tercemar, akhirnya orang mulai mencari kosa kata yg layak untk Jokowi. Karena ARB jelas narsis di medianya sendiri dan Jokowi tampak tulus bekerja. Orang melabelkan ARB sebagai pencitraan sekaligus jg mencari-cari kosa kata yg belum tercemar maknanya untk Jokowi. Kata apa yg tepat? Belum ada yg pakem.
Aku tak ingin berbicara mengenai pencitraan politisi lagi. Aku hanya ingin menulis tentang kita, individu-individu yg berada di tengah masyarakat.
Kita bisa kompak mencaci politisi yg sedang melakukan pencitraan. Tapi kita sendiri sebenarnya sedang melakukan pencitraan. Kita seolah sudah bekerja, padahal tidak. Kita seolah bergaya kaya saat musim mudik tiba, padahal di kota tak punya apa-apa. Kita seolah memikirkan orang miskin, padahal kita hanya ingin tampak dianggap peduli kemanusiaan.
Aku belajar bahwa seiring dgn waktu, orang tak akan bisa membedakan antara pencitraan dgn menjaga nama baik. Okelah, pencitraan itu jg sebuah usaha untk memperlihatkan nama baik. Perbedaannya, dlm pencitraan sangat dimungkinkan adanya kebohongan-kebohongan yg dibuat bertolak belakang antara fakta dan pencitraannya. Sedangkan menjaga nama baik adalah, menutupi aib dan kesalahan kita dgn tak mengumumkannya kepada orang-orang. Apalagi yg kita lakukan bukan dosa sosial yg merugikan banyak orang. Sehingga menjaga nama baik tak dpt disebut dgn munafik.
Misalnya, ada seorang lelaki tampan yg diam-diam senang memakan upilnya sendiri. Jika dia tak mengatakan pd siapapun hobinya itu, maka itu tak bisa disebut sedang pencitraan dlm konotasi yg buruk. Tapi ia sedang menjaga nama baik dirinya. Karena ia tahu bahwa hobinya itu bukanlah sesuatu yg umum di masyarakat. Ia bisa habis di bully karena itu. Bayangkan jika hobinya itu dia tulis di sosial media dgn tulisan : "Dingin-dingin memang paling enak makan upil sendiri" disertai foto selfie yang memperagakan gerakan itu. Niscaya orang itu akan mempermalukan dirinya sendiri, pacarnya (kalau ada), dan keluarganya. Kecuali memang dia dari awal berniat untk mencitrakan diri sebagai seorang yg menjijikkan dan mengira bahwa aksi tersebut adlh hal keren sejagad raya.
Pencitraan itu, sekali lagi, sangat berbeda dgn menjaga nama baik.
Misalnya begini juga. Kita pernah mendengar kabar tentang pernikahan SBY sebelum bersama Ani. Dari pernikahan itu SBY punya 2 putri. SBY melakukan pencitraan dgn tak mengakui bahwa peristiwa itu tak pernah terjadi padahal nyatanya terjadi dgn bukti-bukti yg kuat. Nah, di sini kita mencium bau busuk pencitraan. Karena ada fakta yg keliru dan bertentangan dlm hal ini.
Jika aku tak mengatakan tentang aib diriku sendiri, itu bukan karena aku sedang melakukan pencitraan. Karena hal-hal yg ada kaitannya dgn aib yg aku tutupi itu tak aku kemukakan di publik dgn versi yg berbeda. Bahkan tak memunculkan isu tersebut di publik. Maka itu bukan pencitraan. Itu sedang menjaga nama baik. Karena aku tahu bahwa hidupku tak serta merta tentang diriku sendiri. Ada keluarga, sahabat, dan nama organisasi yg barangkali terkena imbas dari buruknya namaku. Justru karena tak memikirkan diri sendiri, aku menjaga namaku. Meminjam kalimat Anies Baswedan, "supaya ibu kita tak malu telah melahirkan kita".
Apa sedang melakukan kemunafikan? Oh jelas tidak. Karena, sekali lagi, menjaga nama baik adlh mengatakan / memilih untk tak mengatakan apa-apa yg tak bertentangan faktanya. Apalagi jika itu bukan sebuah dosa sosial yg kebenarannya diperlukan untk kepentingan orang banyak.
Pada akhirnya, aku ingin berbicara langsung pd orang yg mengaku tak peduli dgn citra diri (mungkin maksudnya nama baik diri sendiri), jika kamu tak peduli sama sekali tentang omongan buruk orang disekitarmu, tak peduli pd stigma buruk masyarakat padamu karena aib pribadi yg tersebar, tak peduli perasaan orang-orang terdekatmu yg mendengar kabar itu, mungkin seharusnya kamu memilih karir sebagai intelegen. Karena salah satu hal yg sangat dipertimbang kan dlm dunia intelegen adlh tak memiliki keterikatan kuat dgn orang-orang lainnya. Jangan pilih pekerjaan lain.
Bisa jadi kamu berkata bahwa kamu tak peduli pd citramu sendiri. Atau kamu berkata peduli setan orang mau berkata apa tentangmu, justru kamu sedang menerapkan prinsip=prinsip self sentris. Karena ternyata kamu adlh orang yg memikirkan diri sendiri. Jika barangkali kamu memang tak memiliki keluarga, orang kesayangan, organisasi, komunitas, dan sebagainya yg perlu dijaga dan sangat terikat pd mu. Bukan berarti orang lain jg harus sama. Jika kamu bisa tenang memikirkan diri sendiri / Self sentris, jangan minta orang lain jg sama sepertimu. Nggak perlu mencela yg memilih untk menjaga nama baiknya. Respect.
Bagiku, menjaga nama baik diri sendiri itu bukan hanya berbicara tentang kinclongnya nama kita pribadi. Tapi jg bentuk respect pada lingkaran sekitar kita yg telah berusaha keras membentuk pribadi kita menjadi sedemikian rupa. Jika kita malah mengkhianati kepercayaan orang sekitar kita yg menyayangi kita, / melukai hati mereka karena desas-desus buruk di sekitar kita, jangan harap kita bisa menjaga nama baik hal-hal yg lebih besar. Nama baik agama, negara, bangsa, dsb.
Jalaluddin Rakhmat dlm salah satu ceramahnya berkata bahwa di dunia ini, ada orang-orang yg memiliki kepercayaan diri tinggi dlm mengungkapkan aib dirinya sendiri. Bukankah akan lebih baik jika kepercayaan diri itu seharusnya digunakan saat melakukan hal-hal baik, bukan saat melakukan hal-hal buruk? []

source : http://syaharbanu.blogspot.com, http://merdeka.com, http://viva.co.id

0 Response to "[Diskusi] Citra dan Teman-Temannya"

Posting Komentar

Contact

Nama

Email *

Pesan *