This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

Mengenal Sekilas Imam Ahli Qira'ah

Mengenal Sekilas Imam Ahli Qira'ah
tiagedhut.blogspot.com - Al Qurraa’ As Sab’ah ( tujuh ahli qira’at ) yg terkenal, yg disebutkan oleh Abu Bakr bin Mujahid rahimahullah, dan dikhususkan penyebutan dikarenakan mereka - menurut Abu Bakr bin Mujahid - terkenal dgn ketelitian, amanah, dan lamanya mereka dlm menggeluti ilmu Qira’at, dan kesepakatan pendapat para ulama untk mengambil Qira’at dari mereka.
Mereka itu adlh sebagai berikut :
Pertama : Abu ‘Amr bin Al ‘Alaa’, gurunya para perawi.
Dia adlh Ziyad bin Al ‘Alaa’ bin ‘Ammar Al Mazini Al Bashri rahimahullah. Ada yg mengatakan bahwa namanya adlh Yahya, ada lagi yg mengatakan bahwa namannya adlh kunyahnya. Dia wafat di Kufah pd tahun 154 H.
Dan dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Ad Duuriyy dan As Suusiyy. Adapun Ad Duuriyy dia adlh Abu ‘Umar Hafsh bin ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz Ad Duuriyy An Nahwi rahimahullah. Ad Duur adlh nama sebuah tempat di Baghdad. Dia wafat pd tahun 246 H. Sedangkan As Suusiyy adlh Abu Syu’aib Shalih bin Ziyad bin ‘Abdillah As Suusiyy rahimahullah, wafat tahun 261 H.
Kedua : Ibnu Katsir (bukan Ibnu Katsir ahli tafsir).
Beliau adlh ‘Abdullah bin Katsir Al Makkiy, salah seorang tabi’in, dan wafat di Makkah tahun 120 H.
Dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Al Bazziy dan Qunbul. Adapun Al Bazziyy dia adlh Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdillah bin Abi Bazzah Al Muadzin Al Makkiy rahimahullah, dan memiliki nama kunyah Abul Hasan, wafat di Makkah tahun 250 H. Adapun Qunbul dia adlh Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Muhammad bin Khalid bin Sa’id Al Makkiy Al Makhzumi rahimahullah, dan memiliki nama kunyah Abu ‘Amr, dan dijuluki Qunbul. Ada yg mengatakan : Mereka adlh Ahlul Bait di Makkah yg dikenal dgn Al Qanabilah. Beliau wafat di Makkah tahun 291 H.
Ketiga : Nafi’ Al Madaniy rahimahullah. Beliau adlh Abu Ruwaim Nafi’ bin ‘Abdirrhaman bin Abi Nu’aim Al Laitsiy, berasal dari Ashfahan, dan wafat di Madinah tahun 169 H.
Dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Qaaluun dan Warasy. Adapun Qaaluun dia adlh ‘Isa bin Mainaa Al Madaniy rahimahullah seorang pengajar bahasa Arab, dan memiliki nama kunyah Abu Musa, dan Qaaluun adlh julukannya. Dan diriwayatkan bahwa Nafi’ menjulukinya dgn julukan tersebut karena bagusnya bacaannya. Karena kata Qaaluun dlm bahasa Romawi berarti bagus. Dia wafat di Madinah tahun 220 H. Sedangkan Warasy dia adlh ‘Utsman bin Sa’id bin Al Mishriy rahimahullah, memiliki nama kunyah Abu Sa’id, dan Warasy adlh nama julukannya. Dia dijuluki dgn julukan tersebut ada yg mengatakan karena kulitnya yg sangat putih. Dia wafat di Mesir tahun 197 H.
Keempat : Ibnu ‘Amir Asy Syaami dia adlh ‘Abdullah bin ‘Amir Al Yahshubiy, seorang hakim di Dimasyq (Damaskus) pd masa kekhalifahan Al Walid bin ‘Abdil Malik. Dia diberi nama kunyah Abu ‘Imraan, beliau termasuk salah seorang tabi’in. Wafat di Dimasyq tahun 118 H.
Dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Hisyam dan Ibnu Dzakwan. Adapun Hisyam dia adlh Hisyam bin ‘Ammaar bin Nashir Al Qaadhiy Ad Dimasyqiy rahimahullah diberi nama kunyah Abul Walid, dan dia wafat di sana pd tahun 240 H. Sedangkan Ibnu Dzakwan dia adlh ‘Abdullah bin Ahmad bin Basyir bin Zakwan Al Qurasiy Ad Dimasyqiy rahimahullah, dan diberi nama kunyah Abu ‘Amr. Dia lahir tahun 173 dan wafat di Dimasyq (Damaskus) tahun 242 H.
Kelima: ‘Ashim Al Kuufiy dia adlh ‘Ashim bin Abi An Najuud, ada yg menamainya Ibnu Bahdalah, Abu Bakr dan dia adlh salah seorang tabi’in. Wafat di Kufah tahun 128 H.
Dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Syu’bah dan Hafsh. Adapun Syu’bah dia adlh Abu Bakr bin Syu’bah bin ‘Abbas bin Salim Al Kuufiy rahimahullah, wafat di Kufah pd tahun 193 H.
Sedangkan Hafsh adlh Hafsh Sulaiman bin Al Mughirah Al Bazzaz Al Kuufiy rahimahullah, diberi nama kunyah Abu ‘Amr, dan dia adlh orang yg tsiqah (kredibel). Ibnu Ma’in rahimahullah berkata : Dia lebih menguasai qira’at dibandingkan dgn Abu Bakr. Dia wafat tahun 180 H.
Keenam : Hamzah Al Kuufiy dia adlh Hamzah bin Habib bin ‘Imarah Az Zayyat Al Faradhiy At Taimiy, diberi nama kunyah Abu ‘Imarah. Dia wafat di Bahlawan pd masa kekhilafahan Abu Ja’far Al Manshur tahun 156 H.
Dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Khalaf dan Khalad. Adapun Khalaf dia adlh Khalaf bin Hisyam Al Bazzaz rahimahullah, diberi nama kunyah Abu Muhammad, wafat di Baghdad pd tahun 229 H. Sedangkan Khallad dia adlh Khallad bin Khalid Ash Shairafiy Al Kuufiy rahimahullah, diberi nama kunyah Abu ‘Isa, dan wafat di sana tahun 220 H.
Ketujuh : Al Kisaa’i Al Kuufiy dia adlh ‘Ali bin Hamzah, Imam ahli Nahwu (tata bahasa Arab) kalangan Kufiyun, diberi nama kunyah Abul Hasan. Dinamakan Al Kissaa’i karena dia ihram memakai Kisaa’ (kain penutup Ka’bah). Dia wafat di Ranbawaih salah satu daerah di perkampungan Ar Ray, ketika hendak menuju ke Khurasan bersama Ar Rasyid tahun 189 H.
Dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Abul Harits dan Hafsh Ad Duuriy. Adapun Abul Harits dia adlh Al Laits bin Khalid Al Baghdadi rahimahullah, wafat pd tahun 240 H. Sedangkan Hafsh Ad Duuriy dia adlh perawi (yang meriwayatkan qira’at) dari Abi ‘Amr dan telah berlalu penjelasannya.
Adapun tiga imam qira’at sebagai pelengkap (yang menggenapkan) qira’at sepuluh adlh :
Kedelapan : Abu Ja’far Al Madaniy, dia adlh Yazid bin Al Qa’qa’, wafat di Madinah pd tahun 128, dan ada yg mengatakan tahun 132 H.
Dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Wardan dan Ibnu Jammaaz. Adapun Wardan dia adlh Abul Harits ‘Isa bin Wardan Al Madaniy rahimahullah, wafat di Madinah sekitar tahun 160 H. Sedangkan Ibnu Jammaaz dia adlh Abu Ar Rabi’ Sulaiman bin Muslim bin Jammaaz Al Madaniy, wafat di sana (Madinah) tak lama setelah tahun 170 H.
Kesembilan : Ya’qub Al Bashriy, dia adlh Abu Muhammad Ya’qub bin Ishaq bin Zaid Al Hadrami, wafat di Bashrah pd tahun 205 H, dan ada yg mengatakan tahun 185.
Dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Ruwais dan Rauh. Adapun Ruwais dia adlh Abul ‘Abdillah Muhammad bin Al Mutawakkil Al Lu’lu Al Bashriy rahimahullah, dan Ruwais adlh julukannya. Dia wafat di Bashrah pd tahun 238 H. Sedangkan Rauh dia adlh Abul Hasan Rauh bin ‘Abdil Mu’min Al Bashriy An Nahwiy, wafat tahun 234 H / 235 H.
Kesepuluh : Khalaf, dia adlh Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab Al Bazzaar Al Baghdadiy, wafat tahun 229 H, dan ada yg mengatakan bahwa tahun kematiannya tak diketahui.
Dua orang yg meriwayatkan qira’at darinya adlh : Ishaq dan Idris. Adapun Ishaq dia adlh Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin’Utsman Al Warraq Al Marwaziy Al Baghdadiy, wafat pd tahun 286 H. Sedangkan Idris dia adlh Abul Hasan Idris bin ‘Abdil Karim Al Baghdadiy Al Haddaad. Dia wafat pd hari ‘Idul Adha tahun 292 H.
Dan sebagian ulama menambahkan empat qira’at lagi di samping kesepuluh qira’at di atas, yaitu:
Pertama : qira’at Al Hasan Al Bashriy, mantan budak kaum Anshar, salah seorang tabi’in senior yg terkenal dgn kezuhudannya. Beliau wafat tahun 110 H.
Kedua : qira’at Muhammad bin ‘Abdirrahman yg dikenal dgn nama Ibnu Muhaishin wafat tahun 123 H. Dan dia adlh salah satu guru dari Abi ‘Amr.
Ketiga : qira’at Yahya bin Al Mubarak Al Yazidi An Nahwiy, dari Baghdad, dan ia mengambil ( belajar qira’at ) dari Abi ‘Amr dan Hamzah. Ia adlh salah satu guru dari Ad Duuriy dan As Suusiy. Beliau wafat tahun 202 H.
Keempat : qira’at Abil Farj Muhammad bin Ahmad Asy Syanbuudziy .Beliau wafat tahun 388 H.
Sumber : Mabahits Fii Ulum Al Qur-an hal 182 - 186, karya syaikh Manna' Al Qaththan.
Tambahan :
mungkin ada yg bertanya : apa hikmah dibalik adanya beraneka ragam qiraah yg ada ?

saya ingin ambil satu contoh saja :

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

ÙˆَÙŠَسْØ£َÙ„ُونَÙƒَ عَÙ†ِ الْÙ…َØ­ِيضِ Ù‚ُÙ„ْ Ù‡ُÙˆَ Ø£َذًÙ‰ فَاعْتَزِÙ„ُوا النِّسَاءَ فِÙŠ الْÙ…َØ­ِيضِ ÙˆَÙ„َا تَÙ‚ْرَبُوهُÙ†َّ Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·ْÙ‡ُرْÙ†َ فَØ¥ِذَا تَØ·َÙ‡َّرْÙ†َ فَØ£ْتُوهُÙ†َّ Ù…ِÙ†ْ Ø­َÙŠْØ«ُ Ø£َÙ…َرَÙƒُÙ…ُ اللَّÙ‡ُ Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ ÙŠُØ­ِبُّ التَّÙˆَّابِينَ ÙˆَÙŠُØ­ِبُّ الْÙ…ُتَØ·َÙ‡ِّرِينَ

( QS Al Baqarah : 222 )

berdasarkan ayat tersebut para ulama ahlussunnah berselisih : apakah seseorang wanita yg telah suci dari haidh ( dan belum mandi ) boleh di"datangi" oleh suaminya ?

apa jawabannya berdasarkan manfaat yg bisa kita petik dari mempelajari qira'ah ?

jawabannya :

Diantara manfaat dan hikmah adanya perbedaan qira'ah adlh sebagai hujjah dan saling menafsirkan bagi qiraah yg lain, maka sebagaimana yg dinukil oleh Imam Ahli Tafsir Ath Thabari rahimahullah ada dua qiraah dlm membaca Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·ْÙ‡ُرْÙ†َ ,

قال أبو جعفر: اختلفت القرأة في قراءة ذلك. فقرأه بعضهم:" حتى يطهرن" بضم"الهاء" وتخفيفها. وقرأه آخرون بتشديد"الهاء" وفتحها.
Berkata Abu Jafar ( Imam Ath Thabari ) : " Berselisih ahli qira'ah didalam membacanya, sebagian ada yg membaca Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·ْÙ‡ُرْÙ†َ dgn mendhammahkan ha dan meringankannya, dan yg lain membaca dgn tasyid dan fathah ( Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·َّÙ‡َّرْÙ†َ - pent ).

وأما الذين قرءوه بتخفيف"الهاء" وضمها، فإنهم وجهوا معناه إلى: ولا تقربوا النساء في حال حيضهنّ حتى ينقطع عنهن دم الحيض ويَطهُرن
Adapun yg membaca dgn mendhammahkan dan meringankan ha, maka mereka membawa makna ayat tersebut kepada : " Dan jangan dekati wanita pd masa haidnya sampai darah haidhnya berhenti dan mereka mensucikan diri." ( dan mensucikan diri disini tak terbatas pd mandi saja - pent )

( Kemudian Al Imam Ath Thabari rahimahullah membawakan 3 atsar dlm masalah ni - pent : abu asma andre )

وأما الذين قرءوا ذلك بتشديد"الهاء" وفتحها، فإنهم عنوا به: حتى يغتسلن بالماء.
Adapun yg membaca dgn tasydid dan memfathahkan ha ( Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·َّÙ‡َّرْÙ†َ - pent ) maka mereka membawa kepada makna : " Sampai mereka mandi."

( Jami'ul Bayan 4/384 )
Dari perbedaan qiraah disini bisa dipahami bahwa ada dua cara membaca حتى يطهرن , yaitu : Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·ْÙ‡ُرْÙ†َ ( sebagaimana yg termaktub di mushaf kita sekarang ni ) dan Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·َّÙ‡َّرْÙ†َ ( sebagaimana ni adlh bacaan Al Kisa'i - At Taisir Fii Qira'at As Sab'ah hal 68 )

maka sebagai kesimpulan dari menggunakan qiraah sebagai hujjah bagi masalah fiqhiyyah adlh :

Dan ketika qira'ah Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·ْÙ‡ُرْÙ†َ maka maknanya sampai dia suci dlm artian berhenti dari haidh, dan apabila qira'ah Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·َّÙ‡َّرْÙ†َ maka maknanya sampai dia mandi...

Bukankah qiraah Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·َّÙ‡َّرْÙ†َ merupakan penjelasan dari qiraah Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·ْÙ‡ُرْÙ†َ ?

Karena lafadz suci yg terkandung didalam makna Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·ْÙ‡ُرْÙ†َ masih mengandung dua kemungkinan, yaitu suci dari haidh / mandi, maka datang hujjah dari qiraat lain yaitu Ø­َتَّÙ‰ ÙŠَØ·َّÙ‡َّرْÙ†َ yg maknanya hanya satu yaitu suci dgn sebab mandi...
Ditulis oleh : Abu Asma Andre

Baca Juga : 'Ilmu Qiro'ah

0 Response to "Mengenal Sekilas Imam Ahli Qira'ah"

Posting Komentar

Contact

Nama

Email *

Pesan *