tiagedhut.blogspot.com - Gaya Bercinta Ala Santri
Sebut saja namanya Lalaki. Senior di Forum Diskusi Bambu Runcing. Malam minggu kemarin, ia menyempatkan hadir sekaligus curhat kisah cintanya yg kandas di tangan pengurus saat mondok di salah satu pesantren terkenal di daerah Tasikmalaya.
Mengenal sosok wanita dan berpacaran dengannya merupakan pengalaman tersendiri, yg menjadi bumbu penyedap di tengah kepenatan aktivitas mengaji di pondok. Sayang, meski cinta Lalaki tak bertepuk sebelah tangan, ia harus merelakan tali kasihnya dipotong pengurus, sekaligus merelakan helai demi helai rambutnya yg gondrong sebahu.
Memang, selama saya berada di pondok merasakan hal yg sama. Sebagai makhluk berjenis kelamin pria, tentu saya mempunyai rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Namun, sebagai santri, saya harus mentaati segala peraturan yg telah ditetapkan oleh pondok pesantren yg saya berdiam di dalamnya.
Selama ini, kesempatan bertemu makhluk bernama wanita di lingkungan pondok sangat terbatas. Beruntunglah saya bukan santri pondok biasa, melainkan dibarengi dgn sekolah. Dengan demikian, kesempatan saya untk mencuci libido saya lebih leluasa dibandingkan santri yg berstatus mondok permanen.
Selain di sekolah, jangan harap santri pria dpt bertemu dgn santri wanita, seperti yg sering digambarkan di sinetron-sinetron picisan mengenai kehidupan pesantren. Tempat mengaji yg terpisah dan tempat beribadah yg terpisah pula menjadi tembok tebal untk menikmati keindahan ciptaan Tuhan bernama wanita.
Di saat rasa rindu dan kebutuhan akan romantisme ala anak muda menyeruak, memenuhi tiap jengkal relung sanubari, kami hanya bisa menatap nanar kobong (tempat mondok) para santri wanita yg terletak di atas rumah Kiai dan persis di sebelah Masjid Pria.
Hampir tiap malam, bagi santri-santri pemuja, menatap ke atas rumah Kiai sembari menggoreskan luapan cintanya di atas selembar kertas putih. Esoknya, kertas itu dititipkan kepada santri yg -kebetulan- bersekolah. Persis seperti menitip surat kepada pak pos. Bedanya surat yg ni tanpa perangko dan -biasanya- memakai embel-embel, Mohon dirobek / dibakar setelah membaca.
Bukan kenapa, melainkan bahaya besar dan termasuk siaga satu bila surat itu jatuh ke tangan pengurus pondok yg telah ditetapkan secara musyawarah. Hukuman telah menanti. Dari disuruh menalar kitab, dibotaki, hingga dipanggil kedua orang tuanya. Jadi wajar surat itu memakai embel-embel tersebut di paragraf terakhir, dgn kata-kata NB: yg besar.
Dengan menyimak kisah di atas, wajar saja jika santri jaman dahulu sering dijodohkan oleh kiai-nya sendiri. Atau kalau tak mereka biasanya telat untk menikah. Tapi itu jg tergantung individu masing-masing. Namun, di pesantren saya, santri yg menetap (non sekolah) biasanya memang berstatus bujang lapuk dibandingkan dgn santri yg bersekolah.
Bagaimana dgn saya?
Saya, sebagai pria, jelas merasakan dorongan libido yg sama.
Namun, mengingat besarnya harapan orang tua kepada saya, saya harus menempatkan kepercayaan orang tua dgn semestinya. Untuk saat ini, sebagai pelipur lara di kala malam, cukup-lah buku-buku yg menemani segala kegalauan hati yg saya alami.
Walhasil, bercinta di Pesantren itu bak peribahasa Ngeri-ngeri sedap!.
source : http://hipwee.com, http://menuju-pencerahan.blogspot.com, http://bbc.co.uk
0 Response to "[Sex Muslim] Gaya “Bercinta” Ala Santri"
Posting Komentar